PresMalut

Blokade Hormuz Memanas, Publik Timur Tengah Diliputi Ketidakpastian

Foto: Cover Topik/ Drama Perang AS VS Iran/ Edward Ricardo

Jakarta – Upaya perundingan gencatan senjata antara Amerika Serikat (AS) dan Iran berakhir tanpa kesepakatan. Kedua negara dilaporkan mengalami kebuntuan dalam mencapai titik temu.

Setelah lebih dari 20 jam pembicaraan di Islamabad, Pakistan, Wakil Presiden AS JD Vance menyatakan bahwa terdapat “perbedaan yang sangat besar antara AS dan Iran terbukti tidak dapat diatasi untuk saat ini”. Di sisi lain, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi mengungkapkan bahwa pihaknya “hampir” mencapai kesepakatan, namun proses tersebut terganggu karena Washington disebut memberikan “tekanan maksimal, perubahan target, dan mengancam blokade”.

Situasi ini menimbulkan pertanyaan besar mengenai kelanjutan gencatan senjata dua minggu yang sebelumnya disepakati secara informal, setelah kedua delegasi meninggalkan Pakistan tanpa hasil konkret.

Mengutip AFP, kekhawatiran kini meluas di kawasan Timur Tengah terhadap potensi pecahnya konflik AS-Iran jilid II. Kondisi ini semakin memanas setelah Presiden Donald Trump memerintahkan blokade Selat Hormuz, yang memperburuk situasi yang sebelumnya sudah rapuh.

“Situasi bisa berubah kapan saja,” ujar Aishah, seorang konsultan ekonomi berusia 32 tahun di Doha, Qatar. Ia menambahkan, “Ini lebih tentang menjalani setiap hari apa adanya.”

Kegagalan perundingan ini juga dinilai tidak mengejutkan oleh sebagian pihak. Laura Kaufman, seorang guru di Tel Aviv, mengatakan, “Saya tidak terlalu berharap banyak pada mereka sejak awal, karena kedua pihak menginginkan hal yang benar-benar berlawanan.” Ia menambahkan, “Sepertinya tidak ada yang mau bernegosiasi.”

Sebuah survei terbaru menunjukkan hanya 10% masyarakat Israel yang menilai konflik dengan Iran sebagai keberhasilan signifikan, sementara 32% justru menganggapnya sebagai kegagalan pemerintah.

Di Iran, harapan masyarakat untuk berakhirnya konflik juga mulai memudar. Mahsa, seorang karyawan perusahaan ekspor di Teheran, mengungkapkan, “Saya benar-benar ingin mereka berdamai.” Ia menambahkan, “Sudah hampir 45 hari saya melihat semua orang stres. Ini situasi yang buruk.”

Perasaan pesimistis juga disampaikan oleh Hamed, 37 tahun, yang mengatakan, “Saya lebih memilih perdamaian, tetapi saya pikir tidak ada jalan lain selain perang dan konfrontasi.” Ia melanjutkan, “Berdasarkan apa yang saya lihat dan dengar, sayangnya kita akan berperang lagi dan sepertinya kita akan mengalami perang yang panjang.”

Ketegangan ini turut berdampak pada sektor energi di kawasan Arab. Kementerian Energi Arab Saudi sebelumnya menyatakan bahwa jalur pipa minyak utama dan fasilitas energi lainnya telah kembali beroperasi setelah serangan Iran di kawasan Teluk.

“Tentu saja saya khawatir perang akan kembali lagi,” kata Amin, seorang apoteker di wilayah timur Arab Saudi yang menggunakan nama samaran.

Di Lebanon, situasi bahkan lebih kompleks karena gencatan senjata disebut tidak pernah benar-benar berlaku, sementara serangan terus meningkat. Dokter gigi Kamal Qutaish menggambarkan negaranya sebagai “arena tempat seluruh dunia bertempur”.

Ia juga memperingatkan dampak global jika upaya damai gagal, dengan mengatakan, “Jika (negosiasi) gagal, itu akan memengaruhi bukan hanya kita, tetapi seluruh dunia.” Ia menegaskan, “Hanya orang gila yang tidak akan takut.”

Exit mobile version